“Failed in Translation” Ada yang pernah mengalami?

semat

Seringkali dalam percakapan sehari-hari kita menemui kesalahan dalam membahasakan atau mengucapkan sesuatu. Terkadang, kesalahan-kesalahan itu mengundang gelak tawa dan kelucuan tersendiri. Umumnya kesalahan-kesalahan tersebut dialami oleh orang-orang daerah yang memiliki bahasa aslinya masing-masing.

Sebagai orang Minangkabau asli, saya juga pernah mengalami kesalahan-kesalahan ketika ingin mengucapkan sesuatu dalam bahasa Indonesia atau mendengar orang lain mengucapkannya. Sekedar informasi saja, selain suku paling rasis sedunia (nggak usah protes yang merasa minang, nggak serius kok), orang Minangkabau juga manusia paling “menyakitkan” dalam hal-hal cemoohan dan ejek-mengejek (read : Pancameeh). Nah, sedikit saja salah dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar, tunggu saja gempuran ejekan menghadang. Tapi, dalam sejarahnya dan sampai sekarangpun orang Minangkabau adalah “barak”nya orang-orang hebat dan “pabrik”nya pejuang besar di negeri ini (tuh kan, rasis abis).

Bahasa Minangkabau sendiri pada dasarnya memiliki konsonan kata yang tidak jauh berbeda dari bahasa Indonesia. Contohnya, ketupat = katupek; lambat = lambek; kerbau = kabau; hening=haniang; pening=paniang; hangat = hangek.  Tapi, justru inilah yang menjadi perangkap-perangkap kesalahan  orang Minang dalam berbahasa Indonesia. Berikut ini adalah beberapa kesalahan orang Minang dalam membahasakan bahasa Minang ke bahasa Indonesia yang mungkin tidak begitu lucu bagi orang NOMI (non-minang), tapi menggelikan bagi orang Minang.

1.       Gundar Gigi

Gundar gigi maksudnya dalam bahasa Indonesia adalah Sikat Gigi. Ketika pertama kali kuliah di Jakarta, inilah bahasa yang membuat saya cukup memalukan. Suatu ketika saya ingin membeli sikat gigi di sebuah mini market di asrama mahasiswa. Kebetulan waktu itu saya pergi bersama salah seorang teman. Sialnya, saya tidak menemukan dimana letak sikat gigi sialan itu sehingga dengan sialnya saya harus bertanya pada kasirnya yang terkena kesialan saya.

Saya             : “Mas, mas.. jual gundar gigi nggak mas? Saya nggak nemu dimana” (dengan tampang serius).

Tiba-tiba hening.

Mas Kasir   : “(diam, sambil mengernyitkan dahi)”

Saya             : “mas, ada nggak?”

Mas Kasir   : “hah, apaan barusan?”(masing bingung)

Beny            : (sambil menahan ketawa, lalu berbisik) “ran, sikat gigi ran”

Saya             : (diam, muka mulai merah), “ maksudnya sikat gigi mas”

Mas Kasir   : “oooh, sikat gigi toh. Itu dipojok sana”

Saya             : (nggak berkata apa-apa lagi).

Beny            : “Buek malu den se ang mah” (artinya : bikin malu aja kamu)

2.         Mereng

Ada yang tau mereng itu apa?

Mungkin akan lebih jelas kalau saya ceritakan asal-usul kata tersebut. Saya mendengar kata ini ketika saya belajar matematika saat masih SMA. Seorang guru yang benar-benar saya banggakan atas kecerdasan otaknya mengolah angka-angka, tiba-tiba melontarkan suatu kata yang begitu menggelikan bagi siswa-siswanya. Saat itu di kelas tengah belajar mengenai integral dimana hasil persamaan dalam integral tersebut digambarkan dalam bentuk grafik.

Bapak X       : “kalian sudah menemukan jawabannya?”

Rio                  : (tunjuk tangan)

Bapak X       : “ya, silahkan digambarkan ke depan”

Rio               : (menulis persamaan integral berikut dengan grafiknya) “sudah pak”

Bapak X       : “hmm, ini salah ini. persamaanya sudah benar tapi grafik kamu salah. Seharusnya grafik ini agak “mereng” sedikit dia ke kanan (aksen khas minang)”

Kami semua : (menahan tawa)

Ternyata “MERENG” yang dimaksud Bapak X adalah “MIRING”, sedangkan bahasa aslinya dalam Minangkabau adala “MIRIANG”.

3.         SEMAT

Kali ini adalah cerita yang saya dengar dari orang lain, jadi saya tidak tahu siapa tersangka kejadian perkara ini. Anggap saja namanya Bunga. Bunga baru pertama kali ke Jakarta diajak pamannya untuk bantu-bantu mengurusi pekerjaan rumah tangga. Suatu hari Bunga diminta untuk membeli “SAMEK” (dalam bahasa Indonesia disebut “PENITI”) di warung dekat rumahnya. Sampailah Bunga di sebuah warung :

Bunga          : “Pak, ada jual semat nggak pak?”

Bapak          : (bingung) “Semat? Semat apa? Nggak ada”

Bunga          : “semat pak, semat”

Bapak          : “iya, saya nggak jual semat”

Bunga          : (dengan kesal, lalu kembali pulang dan melapor pada pamannya),

“ndak ado jua samek disitu doh om” (ga ada yang jual peniti disana om)

Paman         : “lai mah, apo nan basabuik?”

Bunga          : “Bunga kecek an : “pak, ada jual semat ga pak?” “gitu ha, tapi ndak ado kecek apak tu doh” (Bunga bilang : pak, jual peniti ga pak?, gitu, tapi kata si bapak nggak ada)

Paman         : (tertawa sampai muntah-muntah *fiksi belaka) “ondeh supiaaak, ndak semat nan disabuik doh, peniti!!” (ondeh upiiik, jangan bilang semat, tapi peniti)

4.         Shampa

Terkadang orang-orang non-minang suka me-lebay-lebay­-kan bahasa minang. Semua kata berakhiran “A” sering dirubah seenaknya menjadi “O” dalam bahasa minang. Memang banyak kata-kata dalam bahasa minang berakhiran “O” yang menjadi akhiran “A” kalau ditranslet ke bahasa Indonesia. Tapi saya tekankan sekali lagi, tidak semuanya.

Tapi lagi-lagi itu menjadi kebodohan saya yang lainnya. Kata-kata “SHAMPA” sampai saat ini masih menjadi bahan bully-an Papa dan Mama kalau saya di rumah. Ini terjadi saat saya masih berumur 5 tahun. Seumuran itu saya sedang pede-pede nya berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Saya             : (mengubek-ubek kantong plastik) “Ma, ini SHAMPA siapa?”

Mama          : “Shampa?, apo shampa tu? Sampah?”

Saya             : “ini ma.. Shampa yang ada di kantong plastik” (sambil menunjukkan satu sachet berisi cairan ukuran kecil)

Mama          : (lagi-lagi… tertawa. Papa yang mendengar pun ikut tertawa) “ondeh nak, itu ndak Shampa doh, shampo tetap juo shampo bahasa Indonesianyo” (ondeh nak, itu bukan Shampa, Shampo bahasa indonesianya ya tetap shampo”)

Sudahlah, saya sudahi saja. Saya tidak mau membuka aib lebih banyak lagi. Sebenarnya masih banyak kata-kata yang menurut bahasa saya Failed in Translation yang diucapkan orang minang atau mungkin orang-orang daerah lainnya.

Tapi, itulah uniknya Minangkabau, itulah uniknya Indonesia.

Aku cinta Minangkabau dan AKU CINTA INDONESIA.

Advertisements

2 comments

  1. Ah I like the way you write your story. Even though I don’t understand a thing about your local language, it still gives me a good laugh 😀

    1. ahaha.. thank you.
      You have to visit my hometown, Minangkabau land.
      it’s beautiful. really!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: