Menguras Hati di Kawah Ijen

DSCF1448Biasanya naik gunung itu menguras tenaga, tapi kali ini nggak hanya menguras dompet, tapi juga menguras hati.

2 Januari 2013, saya mendaki gunung yang tingginya nggak melebihi Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat, yaitu Kawah Ijen.  Kawah Ijen sendiri adalah pusat danau kawah terbesar di dunia yang terletak di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kawah ini mampu memproduksi 36 juta meter kubik belerang dan hidrogen klorida dengan luas sekitar 5.466 hektar. Kedalaman kawah mencapai 200 meter. Wew!! (sambil mulut menganga) Hebat ya Indonesia!. Kawah Gunung Ijen ini termasuk kategori berbahaya karena  gas beracun dari kawah ini bisa keluar kapan saja tanpa terdeteksi. Bahkan pada hari saya trekking, jalur Ijen ini ditutup karena status kawah dalam kondisi tidak normal. Awalnya saya sempat ragu mau tetap naik apa nggak. Lalu dengan tampang polos saya nanya pada salah seorang petugas. eh, ternyata diizinkan.

“Boleh aja dek, yang lain juga ada yang naik kok, tapi jangan lama-lama di atas ya, hati-hati aja”

“Udah jauh-jauh kesini, masa cuman bentar pak?” kata saya dalam hati.

DSCF1319

Tetap naik, meskipun ditutup 😀

Yosh, trekking dimulai.

Katanya sih bahaya, tapi dibalik itu sungguh pemandangannnya luar biasa. Selama pendakian saya benar-benar takjub dengan hamparan bukit savana dan susunan cemara gunungnya (Casuarina junghuniana). Berasa di Eropa bro!! (Sotoy aja, ke Eropa aja belum pernah, Hehe).

Lalu kenapa menguras hati?

Pertama, Kawah Gunung Ijen ini sejak zamannya VOC (serikat dagang Belanda) sampai sekarang menjadi salah satu tempat penambangan belerang terbesar di Indonesia. Tapi anehnya penambangan disini masih tetap menggunakan cara tradisional. Pekerja tambang harus naik gunung, turun ke kawah, naik lagi, dan turun gunung untuk membawa hasil tambang belerang mereka. Bayangkan saja, seorang pekerja bisa membawa 70-85 Kg belerang dengan cara dipikul. Rata-rata dari mereka maksimal hanya sanggup mengangkat dua kali trip. Saya yakin Ade Rai aja pasti mikir-mikir kalau mau kerja kayak gitu.

DSCF1457

Bagaimana berat dan kerasnya kerja mereka bisa terlihat dari bekas di bahu mereka. Rata-rata bahu pekerja di Ijen sudah kapalan dan terlihat membengkak dibandingkan orang normal. Kata mereka sih awalnya sakit, tapi lama kelamaan seiring dengan kemampuan super tubuh manusia untuk beradaptasi, rasa sakit itu akhirnya hilang. Saya pernah coba mengangkat keranjang pikulan mereka. Jangankan terangkat, satu senti aja nggak naik. Lebih menakjubkannya lagi, pekerja disini sudah ada yang bekerja selama 50 tahun!. Tapi yang membuat saya sangat sedih adalah hasil kerja keras mereka yang dihargai dengan sangat murah. Satu kilogram belerang hanya dihargai dengan 780 rupiah. Kalau dihitung-hitung dengan berat 75 Kg mereka hanya membawa pulang 58.500 rupiah. Belum lagi potongan untuk bos. Saat itu saya benar-benar tidak sanggup membayangkan betapa susahnya orangtua menghidupi saya dan betapa besarnya nikmat Allah buat saya.

DSCF1375

Kedua, atas hasil kenekatan saya turun ke kawah yang katanya bisa melarutkan tubuh manusia itu. Ya, pH di kawah ijen sangat asam hampir mencapai nol. Kawah Ijen ini berwarna hijau toska, indah, tapi mematikan. Awalnya saya iseng saja bertanya pada salah seorang pekerja disana, namanya Pak Rosman (samaran), “Pak, kalau turun kesana boleh gak pak? Saya mau lihat kawahnya pak”

“turun saja, banyak kok pengunjung yang turun. Pekerja disini sudah bertahun-tahun tidak apa-apa. Ayo, kalau mau saya temani”

“wah, boleh pak. Ayo!!”

Awalnya saya mengajak teman-teman yang lain untuk turun ke kawah juga. Namun mereka menolak karena terlalu berisiko. Akhirnya saya turun sendirian tanpa teman-teman, walaupun akhirnya saya tahu kalau mereka juga turun ke kawah saat saya kembali ke atas. Sialan!

Di tengah perjalan turun ke kawah, tiba-tiba asap belerang mengarah tepat di hadapan saya. Huekk, baunya sangat menyengat. Seketika saya merasa lemas  dan merasakan sesak. Mungkin karena pengaruh kerapatan oksigen dan tingginya konsentrasi asap belerang yang terhirup ke dalam paru-paru. Apalagi dengan hanya modal slayer tipis sebagai pengganti masker. Saya mulai panik dan sempat berpikir negatif, “mati gak nih gue?”. Nggak kebayang habis dari Ijen saya cuma pulang bawa nama dan jasad doang.

Tanpa pikir panjang saya mengajak Pak Rosman untuk balik lagi ke atas.

“Pak, kita balik lagi aja yo pak. Saya nggak tahan sama asapnya”

“kenapa? nggak apa-apa kok. Saya biasa aja. Udah dikit lagi kok, sayang udah jauh-jauh dari Jakarta masa nggak turun ke kawah” jawabnya dengan santai.

Baiklah, akhirnya saya memutuskan untuk beristirahat sejenak menunggu asap belerang kembali normal. Tapi tetap saja rasanya sesak, mata perih, dan lemas. Anehnya, pekerja disini santai-santai aja, nggak terlihat terkena efek apapun. Mungkin fisiologi pernapasan mereka sudah beradaptasi dengan lingkungan. Beberapa saat kemudian, keadaan kembali normal dan saya sukses mencapai kawah vulkanik terbesar di dunia. Ini prestasi!! Hehe.

Belakangan saya tahu, beberapa hari setelah dari Ijen saya mendapat kabar bahwa banyak dari warga dan pengunjung sekitar kawah ijen terserang gas beracun. Saya kaget mendengar berita itu karena belum lama ini saya dari sana. Sungguh, Allah telah memberikan perlindungannya. La haula wala kuata illa billahil’aliyul’azim.

Perjalanan ini membuat saya rindu sekali dengan rumah, rindu mama dan papa, dan tiba-tiba teringat…… ups.

Advertisements

3 comments

  1. numpang nanya mas,
    saya ma temen” rencananya minggu ini mau kesana,kira” ditutup nggak?

    1. saya kurang tau masih ditutup apa nggak.
      sebaiknya dalam bulan ini jangan dulu, karna statusnya masih belum normal berdasarkan berita terakhir yang saya dengar.
      naik Ijen sebenernya lebih enak pada bulan2 mei-juli karena pemandangan lebih terang dan ga tertutup kabut.

  2. Yossie Maskal · · Reply

    Kereen..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: