BENCI ketemu BANCI

Saya paling geli kalau dengar atau bertemu yang namanya banci, banci Indonesia lagi. Apalagi kalau bukan karena penampakannya. Lengan berotot tapi memakai tank top, jakun menyembul dan berlipstik merah menyala, celana jins ketat, jari tangan kurus keriting, makeup-nya yang menurut saya seperti pemain opera jaman dulu, dan suara gemulai yang terkesan memaksa. Semua itu membuat saya, mungkin juga kalian, mendadak merasakan mabuk darat seperti kepala pusing, mual, keringat dingin, dan dunia berputar-putar kalau bertemu dengan “makhluk” yang satu ini (oke, ini berlebihan). Yang jelas, saya alergi dan paranoid dengan yang namanya banci, khususnya banci Indonesia. Tapi apa daya, paranoid ini akhirnya berujung dengan “pertemuan” saya dengan seorang banci.

Sewaktu backpacking ke Jogja, saya dan 3 orang teman menumpangi kereta ekonomi dari Jakarta tujuan Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Bagi yang pernah naik kereta ekonomi dengan tujuan daerah jawa tentu sudah tau kondisi kereta ini seperti apa. Kalau kereta berhenti di salah satu stasiun, sekejap isi dalam kereta menjadi pasar kaget. Isi gerbong sekejap dipenuhi mulai dari abang-abang asongan rokok sampai ibu-ibu umur 40an penjual gorengan tapi dengan style ala ABG labil Jakarta. Hal yang paling menyebalkan adalah ketika mereka teriak-teriak tidak karuan agar barang jualan mereka dibeli. Terlebih-lebih kalau ada penumpang yang tidur, teriakan mereka semakin menjadi-jadi. Arrrgh..maksudnya apa coba?

Klimaks dari perjalanan saya di kereta waktu itu adalah beberapa saat sebelum tiba di Stasiun Lempuyangan. Saat itu saya masih mengantuk antara sadar dan tidak. Tapi saya masih bisa mendengar seseorang pengamen bernyanyi dengan penuh semangat beberapa bangku di belakang saya. Suaranya agak aneh, mendayu-dayu, serak dan agak berat. Lirik lagunya yang saya ingat hanya “werewer rewer…werewer rewer..”. suara itu perlahan mulai mendekati bangku tempat saya duduk. Tapi saya tetap cuek dan tidak peduli. Nyanyian “werewer rewer…werewer rewer..”nya semakin cetar membahana. Lagi-lagi, saya tidak tergoda. Tiba-tiba.. seperti ada yang mencolek bibir saya dan menariknya. Saya terbangun dan “masyaAllah….!!!”, sesosok banci berukuran besar nangkring di depan saya dengan senyuman penuh nafsu. Kemudian si banci berlalu pergi sambil mengucapkan “ah.. biasa aja lah masss..”. Saya shock, tegang, sakit perut, mulut menganga, sulit bernapas, dan langsung pengen buang air besar. Saya lihat teman-teman hanya tertawa cekikikan melihat kejadian yang baru saja saya alami. Sialan!

Advertisements

One comment

  1. MR_nissa · · Reply

    Hahahaha
    asliii,, lucu Ran 😀
    Ciee,dicolek banci ni yee :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: