Harmony in The Wild

(Pulau Tidung, 7-8 Juli 2012)

Hidup sebagai mahasiswa tingkat akhir adalah keunikan tersendiri bagi setiap orang, tak terkecuali saya. Dibalik keunikan itu tersimpan satu perjuangan yang sama, visi yang sama. Apalagi kalau bukan demi sebuah buku putih nan keramat bernama “Skripsi”. Ironi memang, kuliah empat tahun dengan biaya jutaan rupiah hanya untuk mempertaruhkan sebuah buku. Buku yang bagi sebagian orang mungkin akan tersusun rapih di atas rak buku dan kemudian menjadi bumbu-bumbu nostalgia di hari tua. Tapi percayalah, kualitas 4 tahun mahasiswa bisa terlihat dari buku putih yang keramat itu.

Setelah berbulan-bulan terpaku di depan laptop dengan setumpuk jurnal dan buku sekapal, hanya satu kata yang patut untuk dihargai, “Travelling”. Jauh sebelum skripsi pun saya telah mempersiapkan rancangan jalan-jalan yang telah saya tuliskan dalam sebuah buku catatan. Catatan yang berisi coretan-coretan metode penelitian, latar belakang, dan teori-teori tentang polusi udara itu ternyata juga cukup indah dihiasi dengan coretan-coretan tentang rencana travelling. Sepertinya cara ini cukup ampuh memacu semangat untuk menyelesaikan si buku putih dengan segera. Karena semakin lama, semakin lama pula rencana travelling itu terealisasi.

Satu minggu setelah mempertahankan skripsi di depan dewan penguji, saya segera bertindak untuk merealisasikan setidaknya satu dari rencana-rencana yang telah tertulis itu. Kali ini tujuannya Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Ide ke Pulau Tidung ini sebenarnya tercetus dari salah seorang teman di kontrakan. Saya dan teman-teman sebenarnya sudah cukup lama mewacanakan jalan-jalan ke Pulau Tidung ini dan bahkan wacana-wacana lainnya jauh sejak kami tinggal di kontrakan yang lama. Namun, tidak satupun dari wacana-wacana itu yang terealisasi. Bahkan tidak salah Iqbal menamainya dengan KB atau keluarga berwacana. Namun untuk kali ini sepertinya KB bukan lagi singkatan dari keluarga berwacana, tapi KB yang berarti keluarga berwisata, hehe.

Nama Pulau Tidung akhir-akhir ini sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Jakarta. Pulau yang menjadi bagian dari gugusan Kepulauan Seribu ini menjadi tempat berlibur yang cukup diminati dari kerumitan dan hiruk pikuknya kehidupan kota. Pulau Tidung secara geografis terletak di sebelah utara Kota Jakarta. Pulau Tidung merupakan pusat kecamatan pulau seribu selatan yang membawahi tiga  kelurahan, yaitu Kelurahan Pulau Tari, Kelurahan Pulau Untung Jawa, dan Kelurahan Pulau Tidung.

Untuk mencapai pulau ini dapat ditempuh dengan kapal motor dalam waktu kurang lebih 2,5 jam dari Pelabuhan Muara Angke. Waktu keberangkatan kapal dimulai sejak pukul 6 pagi hingga pukul 7.30. Sehingga harus berangkat sangat pagi-pagi sekali.

Saya dan teman-teman yang lain (Edo, Irsyad, Iqbal, dan Dodi) akhirnya berangkat ke Pulau Tidung pada hari sabtu. Kami berangkat pagi-pagi sekali sebelum subuh, karena kapal ke pulau tidung biasanya sudah berangkat sekitar jam 7 pagi. Kami memutuskan untuk menaiki KRL keberangkatan pertama pukul 04.45 tujuan pusat kota. Sedangkan sholat subuh kami tunaikan di mushola stasiun kota. Bertolak ke Muara Angke,  kami menaiki bus berwarna biru (lupa nomor berapa) kira-kira setengah jam untuk mencapai Muara Angke, itupun dalam keadaan macet. Ongkos yang kami bayar seharga 7000 per orang, padahal ongkos normalnya 2000. Kok bisa? Yah, sang kenek berhasil melancarkan bualannya dengan iming-iming akan mengantar kami sampai pelabuhan Muara Angke tanpa repot-repot naik angkot lagi. Terdengarnya cukup bagus dan celakanya, kami setuju!!.

Setelah sampai barulah saya sadar kalau kenek tadi telah memanfaatkan ketidaktahuan kami. Bus yang kami tumpangi itu ternyata memang sudah biasanya mengantar sampai jalan depan pelabuhan dan biasanya orang-orang melanjutkan perjalanan dengan menaiki becak, angkot, atau cukup dengan jalan kaki.  Disini benarlah berlaku teori ekonomi tentang “asymmetry information” dimana sang produsen menarik laba sebesar-besarnya dengan memanfaatkan ketidaktahuan konsumennya. Ternyata kenek bus jurusan Muara Angke ini cukup cerdas menerapkan teori ekonomi.

Dari gerbang ke pelabuhan kami harus berjalan sekitar 500 meter untuk sampai di pelabuhan. Di sepanjang jalan ini berjejer rumah-rumah nelayan dan tempat penyetoran ikan. Kawasan pelabuhan ini memang menjadi tempat masuk dan pendistribusian ikan-ikan hasil tangkapan nelayan. Ikan-ikan ini kemudian didistribusikan ke berbagai pasar, supermarket, dan ada juga yang diekspor.

Bau menyengat dan amis seketika langsung menusuk hidung ketika memasuki kawasan pelabuhan ini. Air bekas cucian ikan-ikan menggenang di sepanjang jalan, berwarna hitam, dan mengeluarkan aroma busuk. Saya harus rela kaki dan celana saya basah oleh genangan air ini. Sesekali terdengar rayuan dan sapaan manis dari ABK yang sedang beristirahat di pinggiran jalan pada gadis-gadis cantik dan berpakaian minim yang sepertinya juga akan berwisata ke Pulau Tidung. Saya hanya tersenyum tipis melihat tingkah mereka. Maklum saja, mereka yang berlayar di lautan dengan waktu berminggu atau bahkan berbulan-bulan jarang sekali melihat wanita di kehidupan mereka, pikirku.

Untuk naik kapal kami harus membeli tiket pada petugas perhubungan dengan harga 35.000 per orang. Tapi tiket yang dibayarkan hanya 2000/orang sedangkan sisanya dibayarkan ke petugas kapal. Tapi saying sekali, kapal tujuan Pulau Tidung yang akan kami tumpangi telah berangkat ”beberapa detik” sebelum kami sempat menaiki kapal. Saya mulai cemas mengingat kapal ke Pulau Tidung hanya ada sekitar jam 11 dan itu artinya harus menunggu 4 jam lagi.

Sistem keberangkatan kapal dan manajemen pariwisata di pelabuhan ini bisa dikatakan semeraut. Tidak ada kejelasan jadwal keberangkatan yang pasti, berapa jumlah kapal yang akan berangkat, dan minimnya pusat informasi. Bertanya pada orang sekitar pelabuhan pun sepertinya tidak memberikan solusi. Mereka sepertinya muak memberikan jawaban dengan pertanyaan yang sama setiap hari dari para wisatawan. Jika begini caranya bagaimana bisa menciptakan kepariwisataan Indonesia yang bernilai jual tinggi yang seharusnya mengedepankan kemudahan akses, kemudahan sistem transportasi, dan keamanaan.

Setelah mondar mandir di pinggir pelabuhan saya menemui sekelompok orang yang juga ingin berangkat ke Pulau Tidung. Mereka sepertinya juga ketinggalan kapal dan bernasib sama dengan kami. Tapi ceritanya berbeda,   bapak berjenggot tipis berumur sekitar 35 tahun ini dan anggotanya ketinggalan kapal karena tour guide yang mereka sewa terlambat datang. Sang tour guide pun akhirnya mencarikan kapal baru untuk bisa mengangkut para wisatawan ini. Saya mencoba memberanikan diri menawarkan untuk bergabung dengan kapal mereka dan Alhamdulillah mereka menyetujui.

Kami dan para tour group lain menaiki kapal motor bermuatan sekitar 40 orang. Kapal ini kecil dan bukan kapal yang biasa digunakan untuk mengangkut orang untuk menyeberangi pulau. Kapal seperti ini biasanya digunakan untuk membawa para wisatawan ke area snorkeling. Kecepatannya pun tidak secepat kapal-kapal lainnya. Namun, inilah pilihan yang terbaik daripada harus menunggu 4 jam lagi.

Selama perjalanan banyak sekali sampah-sampah mengapung di laut. Sampah makanan, plastik, dan kayu-kayu bertebaran dimana-mana. Apalagi di perairan yang dekat dengan pelabuhan, airnya berwarna coklat kehitam-hitaman dan berbau amis. Jelas sekali terjadi pencemaran yang sangat tinggi di perairan ini. Semua ini disebabkan oleh perilaku masyarakat yang tidak mau ambil pusing dalam mengelola sampah-sampah mereka. Mereka lebih senang membuangnya ke laut dan berharap sampah-sampah itu akan dimakan ikan dan kemudian hilang dengan sendirinya. Saya sendiri tidak yakin ada ikan yang sanggup hidup di perairan seperti ini.

Tiga jam berlalu, tidak ada tanda-tanda pulau yang kami tuju. Padahal menurut informasi kami seharusnya sudah sampai dalam waktu 2,5 jam. Saya mulai gerah dan cemas. Apalagi tempat duduk saya dan Irsyad persis di sebelah cerobong asap mesin yang sangat berisik dan panas. Saya mengira bising cerobong ini sudah melebihi nilai ambang batas dan mencapai 90 dB sampai membuat telinga saya panas dan kepala menjadi pusing.  Bahkan sikat gigi Irsyad saja berubah mekar karena panasnya cerobong.

Hampir empat jam, belum juga ada tanda-tanda. Saya pun semakin gusar. Irsyad pun sepertinya sudah mencapai tingkat kegerahan maksimal hingga menumpahkan isi perutnya ke laut. Saya berpikir kapal telah menempuh rute yang salah. Ekspresi nahkodanya saja semakin membuat nyali saya ciut. Ya Allah, selamatkan kami, saya belum menikah (loh). Sementara itu di belakang, Edo dan Iqbal dengan earphonenya sangat menikmati musik dari handphone masing-masing seakan tidak peduli bagaimana kondisi yang terjadi. Tidak lama kemudian, tepat empat jam lebih lima belas menit kami akhirnya menepi di Pulau Tidung. Sebenarnya keterlambatan ini tidak lain akibat faktor kecepatan kapalnya yang di bawah rata-rata.

Suasana di Pulau Tidung sangat berbeda sekali dengan suasana yang saya rasakan di saat perjalanan. Air disini biru dan bersih. Udaranya segar dan jauh dari polusi udara seperti di Jakarta. Pantas saja banyak warga Jakarta yang menghabiskan waktu liburannya di pulau ini.

Kami tidak menyewa penginapan di home stay seperti wisatawan lainnya. Kami lebih memilihi untuk camping dan mendirikan tenda. Pilihan ini tentunya lebih irit biaya disbanding menginap di home stay yang dapat merogoh koceh sekitar 250.000 per malamnya. Namun, suasana alami dan petualanganlah yang sebenarnya menjadi alasan utama memilih untuk menginap di tenda.

Tenda kami pasang di Pulau Tidung kecil. Pulau Tidung kecil lebih banyak diisi oleh lahan pertanian yang dikelola oleh Departemen Kehutanan. Tidak ada pemukiman warga disini. Di pulau ini hanya ada satu kedai kopi di dekat jembatan dan sisanya hanya jalan setapak yang ke rumah dinas pegawai kehutanan. Suasana disini lebih sepi dan lebih cocok untuk mengistirahatkan badan dengan pemandangan laut biru dan suara ombak yang mendamaikan.

Ada fakta menarik tentang Pulau Tidung kecil ini. Di pulau ini terdapat makam Panglima Hitam yang konon merupakan orang pertama yang menginjakkan kakinya di Pulau Tidung. Diceritakan bahwa Pulau Tidung merupakan tempat persembunyian Panglima Hitam dari kejaran tentara Belanda ketika perang kerajaan Syarif Hidayatullah. Panglima Hitam atau dikenal juga dengan Wa’turu bersembunyi di pulau ini hingga akhir hayatnya. Sayangnya informasi ini baru saya ketahui setelah kembali dari Pulau Tidung.

Selain menawarkan pemandangan dan suasana yang luar biasa, ada hal menarik lainnya dari Pulau Tidung, yaitu Jembatan Cinta. Menurut saya penamaan Jembatan Cinta tidak lain hanya sebagai kata-kata marketing untuk menarik wisatawan berkunjung ke pulau ini. Jembatan dengan panjang sekitar 800 meter ini merupakan jembatan yang menghubungkan antara Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Pada pangkal jembatan ada lengkungan dengan tinggi sekitar 8 meter dan di bawahnya terdapat cekungan air yang cukup dalam. Kondisi ini sering dimanfaatkan anak-anak disekitar pulau dan para wisatawan untuk melompat dari atas jembatan. Saya pun merasa tertantang untuk merasakan sensasi teori Newton ini. Saya dan Iqbal sepakat untuk mencobanya. Percobaan pertama adalah yang paling mendebarkan. Seluruh badan dan kaki serasa tertarik cukup kuat dan pemandangan berubah hitam sejenak sebelum tercebur. Tapi ada rasa ketagihan  untuk mencoba kembali sensasi yang luar biasa ini. Alhasil, saya pun berhasil melompat dua kali dari jembatan ini.

Hari-hari di Pulau Tidung kami habiskan dengan berenang, mengelilingi pulau, dan makan-makan. Disini kami tidak sempat mencoba snorkeling karena efisiensi biaya (hehe), sayang sekali. Tidak adanya snorkeling bukan berarti jalan-jalan ini hambar begitu saja. Namun, ada satu momen menarik di malam hari ketika Irsyad mencetuskan untuk bermain truth or dare. Entah kenapa tercetus untuk melakukan permainan ini, tapi yang jelas truth or dare ini mampu menjadi momen untuk saling introspeksi diri kami masing-masing. Semuanya begitu lepas dan terbuka untuk saling mengoreksi dan menerima kritikan. Satu hal yang menjadi inti dari pembicaraan di malam itu adalah “respect others, and you’ll be respected”.

Malam itu saya tidak tidur di dalam tenda. Saya memilih untuk tidur beralaskan matras di pinggir pantai karena suhu di dalam tenda lumayan panas dan gerah. Itu pertama kalinya saya tidur di pinggir pantai beratapkan kerlap-kerlip bintang, diiringi deburan ombak, dan semilir angin pantai. Sungguh suasana yang tidak bisa dibandingkan dengan kasur empuk dan hembusan AC di hotel berbintang. Suasana yang menurutku “harmony in the wild”.

Esok harinya setelah makan siang kami beranjak ke pelabuhan untuk kembali ke Jakarta. Kali ini kami menaiki kapal yang resmi digunakan untuk mengangkut penumpang. Kapalnya lebih besar dan tentu jauh lebih cepat dari kapal waktu kami berangkat. Kami berlabuh di Muara Angke pada pukul 12.30. Selama perjalanan pulang saya terus berucap syukur pada Allah karena travelling kali ini telah memberikan nilai-nilai yang cukup berharga.

Advertisements

2 comments

  1. Jembatan cinta sudah selesai di perbaiki.
    Sekedar info bagi yang ingin mengunjungi pulau tidung.

  2. terima kasih infonya. semoga tourism di Indonesia bisa berbenah lebih baik lagi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: