Alcatraz

Diatas kasur tipis bermotif garis. Aku duduk tersandar di antara sinar fajar yang menyelinap di sela-sela jendela. Pancaran sinar keemasannya menusuk  dalam dalam. Membias dalam setiap iris mataku.

Setiap bias cahaya itu kembali membuatku mengingat ulusan-ulasan rasa yang muncul.

Entah sejak kapan..

Yang bisa ku ingat hanya goresan warna-warna hijau, merah muda, dan biru.

Warna-warna itu tak begitu jelas namun selalu bekelebat,

Bagai atmosfer yang menyelimuti bumi.

Terasa dingin, namun tak mendinginkan

Panas, tapi tak membakar

Berdiri pada ketidakjelasan yang membingungkan

Ingin  rasanya aku menguak ulasan-ulasan itu,

mengungkap warna yang selalu bermain-main di pelupuk mata,

dan  kemudian menginterogasinya.

Namun terlalu jauh,

terpenjara dalam jeruji Alcatraz yang terasing, berkawat berduri.

Membayangkan untuk mencoba berenang ke Alcatraz hanya membuatku semakin mual.

Sia-sia saja, jika pun aku berhasil mencapainya..

peluru panas serdadu Alcatraz akan menembus dada

menghancurkanku berkeping-keping.

Advertisements

3 comments

  1. mr_nissa · · Reply

    Waaah,, barek bana kayaknyo mah Ran. .
    alcatraz,,sangat tersiksa . .
    semoga bisa melarikan diri dari alcatraz y Ran 🙂
    Kayak Robert Franklin Stroud (Manusia burung dari Alcatraz) hehe

    1. the birdman of Alcatraz.. 🙂
      haha.. makasih atas motivasinya nissa..

      1. mr_nissa · ·

        hehe yap2 randy 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: