Say no to : Maukah kau mengenalku?, Say yes to : Aku ingin mengenalmu..

Sore hari di kampus, saya dan beberapa sahabat sering melepas tekanan dari hetiknya tugas-tugas kami di tahun-tahun terakhir ini. Skripsi dan magang sepertinya akan menjadi “gebetan” setia menjelang akhir tahun 2012. Pembicaraan sore itu seperti biasa, membicarakan susahnya ketemu PA (pembimbing akdemis), kisah lucu dan aneh selama magang, atau sekedar menyindir sahabat yang sedang jatuh cinta.. hufht.

Tiba-tiba seorang sahabat mengeluh dengan masalah cintanya. Saya sebenarnya tidak cukup tertarik dengan masalah seperti ini, tapi dalam kondisi seperti ini saya mencoba menjadi pendengar yang baik. Selama pembicaraan itu, suatu pernyataan yang membuat saya sedikit tidak simpati adalah “dia tidak pernah mau mengerti saya”

Oke, dalam kehidupan sosial sehari-hari mungkin kita sering mengeluarkan kalimat “kenapa kamu tidak pernah mengerti saya?” atau “cobalah mengerti sedikit keadaan saya”. Tapi pernahkan kita atau mungkin hanya 1 dari 1000 yang akan mengatakan “saya akan berusaha mengerti keadaanmu”.

Kalimat “cobalah mengerti keadaan saya” menurut saya adalah ungkapan ke-egoisme-an seseorang terhadap kehidupannya. Dia tidak mau disibukkan untuk berusaha memperbaiki suatu keadaan secara aktif, tapi seolah memaksa orang lain untuk membuat keadaan dirinya menjadi apa yang ia inginkan. Tipe orang seperti ini biasanya selalu dikelilingi oleh ketakutan akan hal-hal yang mungkin lepas atau jauh dari dirinya. Memikirkan hal-hal tidak penting yang sebenarnya akan mengganggu produktifitas.
Orang-orang seperti ini pun akan sulit berkembang dalam masyarakat, tidak mampu bekerja efektif dalam team work, dan jangkauan sosialisasinya kecil.

Sebagai gantinya, cobalah untuk merubah pandangan dengan menggunakan “Aku ingin mengerti kamu atau aku ingin mengenalmu”. Cara pikir seperti ini akan memberikan motivasi pada seseorang untuk aktif dalam mengenali lingkungannya, peduli, dan tidak egois. Orang-orang seperti ini ingin mengenal banyak orang tanpa menunggu orang lain untuk mengenalnya, sehingga orang lain akan cepat mengenalnya dengan baik. Mereka menjadi lebih kaya dengan pengetahun berbagai kepribadian dan latar belakang orang lain, sehingga jaringan sosialnya kuat dan besar.

Seorang pemimipin selayaknya memiliki sikap seperti ini. Ia memiliki keinginan untuk mengenal masyarakatnya secara lebih baik, tidak menuhankan pencitraan. Pemimpin yang mengenal masyarakatnya, tahu kebutuhan masyarakatnya, tahu masalah masyarakatnya, dan tahu kekurangan masyarakatnya.
Bayangkan jika semua orang seperti ini…

Advertisements

2 comments

  1. Baru tau nih kalau randy ada blog. hehe..

    Setuju Ran… :))

    1. hehe.. masih newbe art.. learning to be writer 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: