Mata Air Bertuah

Mendengar cerita-cerita mistis mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita saat ini. Sebagai orang Indonesia, kita tidak hanya kaya akan budaya dan ras, tapi juga kaya menyimpan segudang cerita-cerita misteri dan mistis pada tiap-tiap daerahnya. Lihat saja karakteristik film-film yang ditayangkan di negeri ini, tidak jauh dari yang namanya SETAN atau HANTU!! Yah, begitulah bangsa.. memiliki ciri khas dan karakteristik masing-masing atau ada juga yang menyebutnya sebagai local wisdom. Namun disini kita tidak akan membicarakan tentang hantu atau kawananya, ini lebih pada fenomena alam.

Kira-kira beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan pulang ke kampung halaman setelah bertahun-tahun merantau menuntut ilmu dan mangasah kepandaian di negeri orang yang penuh dengan kerasnya hidup, mayat-mayat bergelimpangan.. (lhooo..??). oke kita kembali ke jalan yang benar.

Beberapa hari setelah sampai di kampung, seorang teman saya, sebut saja Radian (bukan nama samaran), mengirimkan sms dan kira-kira smsnya seperti ini “ran, pengen lihat fenomena alam ga? Deket rumah gua ada sumber mata air yang ga pernah habis-habis walaupun musim kemarau. Airnya bisa langsung diminum, banyak orang yang ambil air disitu” (aslinya ini ditulis dalam bahasa minang). Wah menarik ini pikir saya. Namun yang membuat saya tertarik bukan karena airnya yang tidak habis-habis, tapi lebih karena kata-kata fenomena alam yang membuat saya cukup tergelitik. Tanpa pikir lama akhirnya saya putuskan untuk ikut.

Berbekal sepeda motor bekas perjuangan masa SMA dulu, saya langsung meluncur ke rumah Radian. Sampainya disana, saya melihat orang-orang sedang sibuk memasang pernak pernik hiasan yang biasa digunakan untuk acara-acara adat di Minangkabau. Oh ya, saya baru ingat kalau kakaknya Radian akan menikah beberapa hari lagi. “ran..! yok, kita langsung ke TKP” Radian langsung mengajak saya dengan 2 jerigen air besar ditangannya.

“Ha? Kita ngambil air juga yan?” Tanya saya sedikit ragu. “iya dong, kalau ga buat apa gua ngajak lu kesini? Hahaha…”. Glekk..menelan ludah. Dikerjain nih kayaknya..

Akhirnya kami menuju lokasi mata air yang katanya bertuah itu. Jalan yang kami tempuh tidak terlalu jauh, kira-kira 1 km dari rumah Radian. Sepanjang perjalanan, kiri kanan saya diiringi oleh pemandangan alam pedesaan yang sejuk, hijau, dan tenang. Sawah-sawah hijau dengan pohon kelapanya yang menjulang, dan aliran sungai berbatu yang masih bersih. Tapi air sungai ini sekarang sedikit surut karena kejadian banjir bandang beberapa bulan sebelumya. Pemandangan inilah yang sebenarnya menjadi alasan saya untuk datang kesini.. it’s totally different.

lubuk cubadak

panorama lubuk cubadak

Lokasi mata air ini tepatnya berada di tepi sawah persis di kaki bukit desa Lubuk Cubadak, Kecamatan Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan. Jika berpatokan dari Kota Padang, daerah ini terletak sebelah selatannya Kota Padang dan dapat ditempuh sekitar 4 jam perjalanan dengan transportasi darat.

Sampainya di lokasi saya tidak begitu ekspresif dengan mata air ini. menurut saya ini hanya mata air biasa yang keluar dari kaki bukit. Kita tahu bahwa bukit dengan pepohonannya merupakan penyimpan (global storage) air hujan yang dapat digunakan untuk kebutuhan alam dan manusia. Subahanallah.. maka nikmat Allah mana lagi yang akan kita dustakan? (sedikit tausyiah..hehe)

Mata air ini keluar dari bawah bebatuan yang telah tersusun melingkar secara alami membentuk sumur kecil dengan kedalaman sekitar 50 cm. yah, airnya sangat jernih. Dasar dari sumur ini pun terlihat dengan sangat jelas hingga saya bisa melihat kontur batu di dalamnya dengan detail.

sumber mata airnya :

Saya pun sempat mendengar pembicaraan seorang ibu-ibu dengan Radian ketika di lokasi, ini saya coba kutip dalam bahasa minang, “mato aia ko batuah mah, lah sajak jaman rang gaek dulu-dulunyo ado mato aia ko, indak pernah kariang dek kamarau, indak pernah karuah”. Kalau ditranslet ke bahasa Indonesia raya artinya seperti ini, “mata air ini bertuah, mata air ini sudah ada sejak zaman nenek-nenek kita dahulunya, tidak pernah kering walau musim kemarau dan tidak pernah keruh sekalipun”. Saya hanya mengangguk-angguk menunjukkan rasa simpati.

Yah, apapun itu, ini adalah sedikit dari karunia Allah yang diturunkan pada negeri ini. lihat betapa perhatiannya Allah pada umat manusia, betapa cintaNya yang tidak pernah habis.
Setelah jerigen terisi penuh, kami berangkat pulang ke rumah Radian membawa dua jerigen air yang sudah terisi penuh. Saya juga sempat mencicipi air ini, rasanya sama dengan air pada umumnya, tapi anehnya air ini menjadi tidak enak ketika dimasak dan katanya berasa seperti air lumpur. Jadi orang-orang disini tidak pernah memasaknya.
Satu pelajaran yang saya ambil dari “jalan-jalan” ini bahwa Allah begitu cinta dan perhatian pada setiap makhluknya terutama manusia. Rahmat yang diturunkanNya datang dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

“Kami akan memberikan perhatian sepenuhnya kepada kamu wahai golongan jin dan manusia. maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman:31-32)

Advertisements

5 comments

  1. kapan-kapan kesana lagi kita bro, penasaran 😀

    1. haha.. oke bro. kapan pulkam??

  2. Mungkin Juni/Juli InsyaAllah bro…

  3. Reblogged this on The_Ilmaskal.

  4. izinn,,,culikk brayy..hahahh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: