Dalam Otaknya Pak Mar

Pak Mar itu orang besar di negeri ini, orang pintar, beliau suka baca buku, pendidikannya tinggi. Kalau bicara senyumnya lebar, bersahaja, tangannya menunjuk-nunjuk ke bawah. Beliau itu wakil kita semua, penyambung lidah rakyat!. Tapi sayang, beliau hanya manusia.

Suatu siang bolong yang panas Pak Mar duduk-duduk di kantornya yang sejuk, ber ac, membaca timeline twitter atau facebook. Followernya ribuan banyaknya, entah karena Pak Mar populer karena kerjanya atau karena ucapannya yang kontroversial akhir-akhir ini atau karena sifatnya yang “pelupa”, lupa kalau ada proyek renovasi milyaran rupiah di kantornya sendiri. Maklum saja Pak Mar sudah tua, sudah banyak beban pikiran yang ditanggungnya, sudah tak layak sebenarnya dia bekerja. Pernah suatu ketika anak perempuannya mengeluh, “pa, sudahlah.. jangan bekerja lagi, saya malu melihat papa disana, hanya duduk-duduk di kantor tapi tak berbuat apa-apa”. Mendengar perkataan anaknya itu lalu Pak Mar menjawab, “nak, tak tahukah kau kalau bapakmu ini sedang mengabdi pada negara? Masih banyak kerusakan negara yang harus diperbaiki, negara membutuhkan bapak nak”.

Sebenarnya Pak Mar bukan tidak mau berhenti bekerja, tapi ada konflik dalam otaknya. Suatu dunia yang tak bisa dilihat manusia, kecuali Allah dan Pak Mar sendiri. Ini cerita dalam otaknya Pak Mar : sayup-sayup terdengar, “aku ini orang berpindidikan, kalau bukan saya siapa lagi yang mengurusi negara ini”, terdengar dari arah belakang, “betul, lebih baik kita bertahan, tapi kita bekerja keras disini mengurusi mereka, jadi kita butuh makan lebih banyak”. Dari bawah ada yang berteriak dan sepertinya bukan dari otak, “wooii.. apa kita bisa? Sudah banyak kritikan buat kita, Setelah kami pertimbangkan lebih kita pergi saja”, Dengan cepat dari samping kanan otak menjawab, “oh tidak bisa, kalau kita pergi anak saya mau makan apa?, tidak usah pusing, kritikan itu hanya dari mereka yang bodoh, tidak tahu apa-apa, dan suka asal bicara. tahulah kamu ini negeri apa? Kita ini kan orang berpendidikan”. Beberapa hari sejak pembicaraan itu, teriakan dari arah bawah tidak pernah terdengar lagi karena besoknya sudah dibangun tembok-tembok besar yang keras, hitam, kedap suara, dan berkawat tajam. Bahkan dari atas pun sudah ditutupi dengan atap besi anti karat produksi import, sehingga tidak ada lagi gangguan dari arah manapun.
Cerita ini hanyalah fiksi, kesamaan nama dan tempat hanyalah kebetulan belaka

Advertisements

2 comments

  1. super bro…
    happy blogging

  2. haha… oke bro 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: